Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gejala Maag Jangan Disepelekan, Pakar Ungkap Bisa Jadi Tanda Kanker Usus hingga Batu Empedu

Jumat, 26 Juni 2026 | Juni 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-26T12:54:23Z
(Doc. Ilustrasi AI)
Fokushariini | Banyak orang menganggap nyeri ulu hati, perut kembung, atau rasa begah setelah makan sebagai gejala maag biasa. Padahal, pakar kesehatan mengingatkan keluhan tersebut bisa menjadi tanda penyakit yang lebih serius, seperti kanker kolorektal, batu empedu, hingga pankreatitis, sehingga tidak sebaiknya ditangani hanya dengan melakukan diagnosis sendiri atau self-diagnosis.

Kebiasaan mengonsumsi obat maag tanpa pemeriksaan medis dinilai berisiko membuat penyakit terlambat terdeteksi. Akibatnya, banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.

"Pada sebagian besar penyakit serius, masalah utamanya bukanlah gejala itu sendiri tetapi bagaimana orang menafsirkannya," kata seorang ahli, dikutip dari Malay Mail.

Konsultan Bedah Umum dan Kolorektal Rumah Sakit Spesialis Tawakkal Kuala Lumpur, Dr. Nurhashim Haron, mengungkapkan sekitar 40 hingga 50 persen pasien kanker kolorektal yang dirujuk kepadanya semula mengira hanya mengalami gastritis atau maag.

"Pasien baru datang untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah gejalanya menetap. Akibatnya, ketika akhirnya didiagnosis, lebih dari 70 persen sudah berada pada stadium lanjut, stadium tiga atau empat," ujarnya.

Menurut Dr. Nurhashim, tren kanker kolorektal kini juga mulai bergeser ke kelompok usia yang lebih muda. Berdasarkan Registri Kanker Nasional Malaysia periode 2017–2021, kasus tidak lagi didominasi usia 55 hingga 65 tahun, tetapi mulai ditemukan pada pasien berusia 40 tahun bahkan lebih muda.

Ia mencontohkan seorang pria berusia 40-an yang awalnya hanya mengeluhkan perut kembung. Hasil endoskopi menunjukkan peradangan lambung, namun pemeriksaan kolonoskopi kemudian menemukan tumor usus besar stadium lanjut yang telah menyebar sehingga pasien harus menjalani operasi dan kemoterapi.

"Namun, banyak pasien masih menganggap gejala-gejala ini disebabkan oleh gastritis, stres, atau diet dan memilih untuk menunggu sampai kondisinya memburuk," katanya.

Sementara itu, Konsultan Bedah Umum dan Hepatobilier Bukit Tinggi Medical Centre, Klang, Dr. Thamarai Velan, mengatakan batu empedu juga kerap menimbulkan gejala yang menyerupai gastritis.

"Banyak pasien datang mengeluhkan rasa panas di dada, gangguan pencernaan, dan ketidaknyamanan perut, yang mereka anggap sebagai gastritis. Namun, menurut pengalaman saya, lebih dari setengah kasus tersebut disebabkan oleh kondisi lain," ujarnya.

Ia menjelaskan, nyeri akibat batu empedu umumnya terasa lebih tajam di sisi kanan perut, menjalar ke punggung, serta dapat disertai mual, muntah, hingga kulit atau mata menguning. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berisiko menyebabkan infeksi berat (sepsis) hingga meningkatkan risiko kanker kandung empedu. Karena itu, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri apabila gejala gangguan pencernaan berlangsung terus-menerus atau semakin berat agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini.

(*/red)