![]() |
| (Doc. Univ. Air Langga ) Ayudhya Sekarwangi, peserta Tes Mandiri UNAIR 2026 asal Nunukan, Kalimantan Utara, |
SURABAYA – Perjuangan mengikuti Tes Mandiri Universitas Airlangga (UNAIR) 2026 membawa cerita berbeda bagi sejumlah peserta. Salah satunya Ayudhya Sekarwangi, peserta asal Nunukan, Kalimantan Utara, yang rela meninggalkan status sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Semarang demi mengejar impiannya menjadi mahasiswa Program Studi Gizi UNAIR.
Ayudhya saat ini sedang menjalani masa gap year setelah sebelumnya belum berhasil diterima di UNAIR. Meski sudah memiliki kesempatan kuliah di universitas lain, keinginannya untuk masuk UNAIR tetap menjadi tujuan utama.
Keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Sejak awal diterima kuliah di Semarang, Ayudhya sudah mempersiapkan diri untuk kembali mengikuti seleksi masuk UNAIR.
“Sebenarnya dari pas saya masuk universitas itu, saya sudah ada kepikiran untuk mencoba lagi tahun depan. Jadi memang persiapannya sudah dicicil sekitar 6 bulan sejak masa ospek kuliah,” ungkap Ayudhya saat ditemui usai mengikuti ujian.
Selama menjalani perkuliahan di Semarang, Ayudhya harus membagi waktu antara aktivitas akademik dan persiapan seleksi. Ia mengikuti bimbingan belajar serta rutin mengerjakan latihan soal secara mandiri untuk menghadapi persaingan masuk UNAIR.
Menurut Ayudhya, pilihannya untuk memperjuangkan Program Studi Gizi UNAIR didasari oleh kualitas pendidikan dan reputasi kampus. Ia menilai UNAIR memiliki lingkungan akademik yang mendukung serta kualitas lulusan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Selain faktor akademik, lokasi UNAIR juga menjadi alasan penting baginya. Berasal dari Kalimantan Utara, Ayudhya mempertimbangkan akses transportasi Surabaya yang dinilai lebih mudah untuk mendukung mobilitas dirinya dan keluarga.
“Akses pilihan transportasi, baik menggunakan kapal laut maupun pesawat terbang, jauh lebih mudah untuk mobilitas pulang-pergi,” tuturnya.
Tidak hanya tertarik dengan kualitas pendidikan, Ayudhya juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan yang diberikan panitia Tes Mandiri UNAIR 2026. Ia mengaku mendapat kesan positif sejak pertama kali datang mengikuti ujian.
Menurutnya, fasilitas dan penyambutan peserta membuat suasana ujian terasa lebih nyaman. Salah satu hal yang berkesan adalah adanya pemberian makanan dan minuman sebelum ujian dimulai.
“Di sini benar-benar diperlakukan dengan sangat baik. Saya sampai tidak mengira kalau kami sebelum ujian itu dikasih roti dan disuruh minum dulu. Pembawaannya jadi lebih santai, meskipun saat ujian pengerjaan subtesnya cukup memacu adrenalin karena dibatasi waktu 55 menit,” ujar Ayudhya.
Dengan dukungan penuh dari orang tua, Ayudhya berharap perjuangannya kali ini dapat membuahkan hasil. Jika dinyatakan lolos, ia berkomitmen untuk melanjutkan pendidikan di UNAIR dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk perlombaan serta organisasi mahasiswa.
(*/red)
